Sabtu, 10 Desember 2011

Legenda Puncak Rantemario dan Nenemori(Rantemario, Puncak Kebahagiaan dibalik Durja Nenek Mori )


Puncak Nenemori 3397 Mdpl

Puncak Rantemario 3478 Mdpl

Banyak yang datang lalu pergi begitu saja, berharap meninggalkan jejak sebagai simbol kehebatan dan kemampuan diri, namun sayang bahkan jejak itu pun tidak mampu melawan angin yang dengan seenak jidatnya menghapus dirinya, tempat inilah yang mereka namakan atap langit kampoeng para Karaeng(Kampung Raja-raja)yang nama lainnya adalah Sulawesi Selatan disanalah berdiri puncak Rantemario.



Salah satu wilayah Indonesia bagian timur yang mempunyai pegunungan terpanjang di Sulawesi, membentang dari Kab.Sidrap - Kab.Enrekang -Kab.Luwu-Kab.Tana Toraja yang dinamakan Pegunungan Latimojong. Jalur pendakian Kab.Enrekang dengan bentang alam , keindahan panorama dan hangat sambutan penduduk asli serta aroma dan rasa kopi yang khas ini sudah merupakan rahasia umum dikalangan penggiat alam. Selalu ada rasa yang tersisa dan rasa jenuh yang terlupa bila berada di lingkungan bentang alamnya, tidak ada yang tidak ingin kembali ke tempat ini setelah melalui malam dan meneguk kemudian menghabiskan lebih dari segelas kopi.

Suku Enrekang masih berhubungan erat dengan Bugis . Pada umumnya berdomisili di Kabupaten Enrekang provinsi Sulsel. Sejak abad XIV, daerah ini disebut MASSENREMPULU yang artinya meminggir gunung atau menyusur gunung, sedang sebutan Enrekang dari ENDEG yang artinya NAIK DARI atau PANJAT dan dari sinilah asal mulanya sebutan ENDEKAN. Masih ada arti versi lain yang dalam pengertian umum sampai saat ini bahkan dalam Adminsitrasi Pemerintahan telah dikenal dengan nama “ENREKANG” versi Bugis sehingga jika dikatakan bahwa Daerah Kabupaten Enrekang adalah daerah pegunungan, sudah mendekati kepastian sebab jelas bahwa Kabupaten Enrekang terdiri dari gunung-gunung dan bukit-bukit sambung menyambung mengambil ± 85 % dari seluruh luas wilayah yang luasnya ± 1.786.01 Km².

Dari beberapa puncak gunung dibarisan Pegunungan Latimojong, ada dua puncak gunung yang menjadi favorit bagi para penggiat alam terbuka yakni Rantemario dan Nene Mori (posisi saling sejajar dan menyambung mengarah ke utara, dilihat dari peta tophographi), entah apakah karena bagi mereka jalur ini adalah jalur termudah atau ada hal lain yang lebih menarik dibanding hanya persoalan jalur karena mendaki gunung bukan masalah pertandingan fisik maupun ketangkasan. Mungkin banyak yang telah mendaki kedua puncak ini, namun saya yakin tidak sedikit banyak dari mereka yang mengetahui legenda mengenai Rantemario dan Nene Mori, mungkin karena memang tidak ingin tahu dan tidak mempriorotaskan hal ini, namun adakah lain yang akan kamu tinggalkan selain cerita nantinya?

Jauh sebelum pemerintahan ini terbentuk, telah diyakini bagi rakyat Rantelemo dan Karangan yang tidak lain adalah kaki gunung Nene Mori dan Rantemario, pernah ada kisah yang akan menjadi filosofi untuk pemberian nama kedua gunung ini.

Dahulu kala, pernah hidup seorang nenek dan cucunya yang bernama Mori. Sudah menjadi keharusan untuk kelangsungan hidupnya, Nenek mori harus berburu anoa selain berharap dari pangan hasil bumi yang tidak tiap harinya bisa ia tuai hasilnya untuk kebutuhan konsumsi setiap hari.

Nenek mori diberkahi kelebihan khusus, memiliki indera keenam yang mampu melihat dan bersahabat dengan makhluk halus/gaib, masyarakat percaya bahwa nenek Mori sering berburu bersama dengan makhluk halus pada sebuah gunung yang sebagian penyusunnya adalah bebatuan.

Nenek mori juga memiliki kerbau putih yang diberi tanda di bagian telinganya dan apabila kerbau putih tersebut mendadak berlari seolah ada yang mengejar maka pertanda akan segera turun hujan.

Selain itu, ada yang unik dan terspesialkan dari kisah hidup Nenek mori, beliau tidak berburu seperti yang masyarakat lain lakukan. Nenek mori berburu dengan cara melantungkan kidung untuk anoa-anoa yang berkeliaran liar di hutan sekitar gunung tersebut. Bila ingin memulai perburuannya, Nenek mori melantunkan kidung diatas sebuah batu besar di puncak gunung, suara Nenek mori yang terhembus oleh angin dan menggema karena memantul di dinding gunung dan lembah di bawah puncak gunung mengalun memanggil dan seolah mengajak yang kedengaran seperti lantunan kidung persahabatan, maka anoa-anoa pun berdatangan dengan jinak kemudian menghampirinya. Begitu banyak anoa yang menghampiri sehingga Nenek mori hanya cukup memilih yang mana yang akan diambil sementara anoa-anoa itu dengan pasrah menyerahkan dirinya kepada Nenek mori tanpa perlawanan sedikitpun. Banyak yang menduga Nenek mori juga berkawan dengan anoa-anoa di gunung itu.

Hingga tiba juga lah masanya, Nenek mori merasa waktunya untuk hidup di dunia semakin menipis sehingga ia berpesan pada cucunya si Mori “Dengarkan sebaik-baik pendengaran mu kata-kata ku ini. Apabila engkau datang di dekat batu tempat biasa nenek bernyanyi sekaligus berburu anoa, kamu harus berteriak dan seketika itu pula maka daging-daging anoa pun akan tersedia, ini adalah janji mu untuk ku, bila engkau melanggarnya maka kamu tidak akan mendapatkan apa pun dan sungguh aku akan meninggalkan mu cucu ku”. Mori pun mendengarkan dan berjanji kepada neneknya akan mematuhi pesan sekaligus perintah neneknya itu.

Namun semakin lama Mori semakin diliputi rasa penasaran. Karena merasa aneh dengan sikap neneknya, Mori pun mendatangi batu tempat neneknya bernyanyi serta berburu secara diam-diam dengan harapan dapat bertemu dengan neneknya lagi dan kemudian berteriak memanggil neneknya, namun janji telah diingkari, tali kesepakatan telah terputus, Nenek mori pun menghilang dan sampai saat ini dipercaya Mori masih sering datang ke gunung itu namun tidak ada lagi suara dari lantunan Nenek mori dan daging anoa yang tersedia. Itulah legenda mengapa gunung tersebut dinamakan gunung Nene Mori(dalam bahasa Indonesia adalah Nenek Mori).

Disebelah utara gunung Nene Mori terhampar punggungan gunung nan luas yang hampir keseluruhan lantainya tersusun dari batu hitam (penduduk sekitar menamainya batu bolong). Begitu luasnya, dipertigaan jalur menuju ke gunung Nene Mori-karangan-Puncaknya terdapat lapangan yang luasnya hampir tidak lebih kecil dari luas lapangan sepak bola. Konon ceritanya gunung ini adalah tempat segala makhluk berbahagia.Daratan/lapangan yang cukup luas yang memberikan kesenangan dan kebahagiaan, memang secara logis itu karena indahnya pemandangan di Batu bolong ini namun penyebab kebahagiaan yang lain hanya Tuhan yang tahu,kita manusia terlalu banyak menduga.

Terdiri dari dua kata dalam bahasa Duri tentunya yakni “Rante = Daratan luas/lapangan” dan “Mario = Senang/Bahagia”. Itulah mengapa gunung ini dinamakan Rantemario. Rantemario puncak gunung yang berarti Daratan kebahagiaan dan tepatnya daratan yang berada di puncak gunung sehingga dapat dikatakan puncak kebahagiaan. Namun karena kedua gunung ini saling menyambung dan pasti salah satu gunung ini terlihat bila berada di puncak gunung Rantemario maupun Nene Mori serta legenda gunung ini saling bertolak belakang walaupun gunung ini tidak terpisahkan. Sehinnga bila letak geografis dan legenda dari kedua gunung ini diformulasikan maka akan tercipta chemistry kata-kata “Rantemario adalah puncak kebahagiaan dibalik durja Nenek Mori”.

"Selalu ada cerita untuk sebuah kisah"
 
Sumber: http://dhea-nahdia.blogspot.com/2011/02/rantemario-puncak-kebahagiaan-dibalik.html
READ MORE.......

Catatan Akhir Tahun 2011

Bayang 2011 segera berlalu, tahun kekayaan dan kejayaan (menurut filosofi orang Thionghoa) segera beranjak dari perguliran sang waktu. Meniggalkan jejak nestapa yang begitu membekas di hati. Ibarat sebuah buku tidak terasa kita akan segera beranjak ke sebuah halaman baru. Yang bertuliskan berjuta tanda tanya besar.




Good bye 2011, dan selamat menyongsong Tahun 2012. Bagi pribadi saya sendiri tahun 2011 ini menyisakan berjuta kenangan manis maupun kenangan pahit. Dan pada posting ini saya akan mencoba memaparkannya secara berurut  dari bulan Januari sampai Desember. Antara lain sebagai berikut.
January:
Chomenk ku
Tanggal  7 bulan January saya mengatakan perasaan ku pada seorang wanita dan dia langsung merespon perasaanku, karena dia juga suka sama saya(katanya sich gituh…..)











February

Momen paling berkesan dalam bulan ini adalah perayaan Valentine Day (hari Kasih Sayang) bersama dengan pacarku tersayang. Selebihnya, di bulan ini hanya ku lalui dengan rutinitas sekolahku. Namun saya semakin tertarik dengan kegiatan alam bebas, sehingga saya mulai tekun membaca literatur dari berbagai sumber.

March

Bersama teman Di Puncak Gunung Sesean 2100 Mdpl

  • 19 Maret saya mendaki ke Gunung Sesean 2100 Mdpl yang terletak di Desa Batutumonga, Kecamatan Sesean Kab.Toraja Utara. 
  • Sehari kemudian tepatnya tanggal 20 Maret  saya bersama 5 orang teman (Ayyung  dan Bejo’ dari KPA GARIS Palopo, Arnan BIVI, Boncel SISPALA SMANSA Makale, dan Seorang teman dari KPA GERHANA Sawerigading) menginjakkan kaki di Puncak Sesean yang berada pada ketinggian 2100 Mdpl, ini merupakan kali pertama seumur hidup saya menginjakkan kaki di suatu puncak gunung, sungguh indah ciptaan Tuhan yang menghampar sejauh mata memandang, kali ini juga pertama kalinya saya berdiri lebih tinggi dari awan yang mengumpal berbentuk lautan di hadapan saya, berbalut cahaya mentari pagi yang menyapa dari ufuk timur Gunung Sesean.
Puncak Sesean



Puncak Gunung Petagarian 1200 Mdpl
  • Sehari kemudian yaitu tanggal 21 MAret 2011, saya mendaki ke Puncak Gunung Petagarian 1200 Mdpl yang terletak di Sillanan, Kec. Gandangbatu-Sillanan, Kab.Tana Toraja. Saya mendaki bersama Reza BIVI dan Nando Limb.







April
Tanggal 28 April adalah hari ulang tahun saya, “Terima Kasih yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala penyertaanMu sehingga sekarang saya telah menikmati anugerahMU berupa nafas hidup selama 18 tahun”. Semoga saya tambah dewasa.Amin

May
Saya, Ibhe, dan Nando
Hendra dan Ivan

Tanggal 14 Mei saya bersama 4 orang anggota team pendakian menginjakkan kaki di puncak Gunung Bulusaraung 1353 Mdpl, yang terletak di Desa Tompobulu, Kec.Balocci, Kab.Pangkajene Kepulauan. Anggota team saya antara lain Nando Limb, Hedra Frasa, Ivan JELATANG, dan Ibhe Atomic  serta saya sendiri.

June
  • Tanggal 5 Juni saya ikut seminar Hari Lingkungan Hidup Indonesia di Kampus Universitas Indonesia Timur. 

  • Tanggal 18 Mei saya bersama beberapa(9) orang teman dari SMAK Makassar menggapai Puncak Gunung Bulusaraung 1353 Mdpl.

July

Puncak I Kandora

Puncak Kandora 1130 Mdpl

  • Hari pembuka di bulan Juli saya menggapai Puncak Gunung Kandora 1130 Mdpl, Desa Palipu’, Kec.Mengkendek, Kab.Tana Toraja. Kami mendaki berdua saja. Bersama Ivan JELATANG.
  • Tanggal 16 juli saya dilantik/dikukuhkan sebagai salah seorang pengurus di BPP KPA SULSEL (Badan Pengurus Pusat Komunitas Pencinta Alam Sulawesi Selatan. Suatu tanggung jawab besar.
Atap Sulawesi

  • Tanggal 23 Juli saya bersama 6 orang teman lain (Ivan dan Tian JELATANG, One’ SOS PEAR, Nana SISPALA 07 Mks, Acox dan Olan ALTAR) menggapai tanah tertinggi di Pulau Celebes, yaitu Puncak Rantemario Peg.Latimojong yang berada pada ketinggian 3478 Mdpl. Ini merupakan kali perdana saya menjejakkan kaki di atap Celebes.






August

Bulan Agustus saya lalui dengan rutinitas biasa di sekolah dan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.

September

Bulan September tak berbeda jauh dengan bulan sebelumnya. Saya hanya lalui dengan rutinitas seperti biasa.Hufttt…..

October
Puncak Bawakaraeng 2830 Mdpl

  • Tanggal 8 October saya bersama 5 orang teman (Ivan JELATANG, One’ SOS PEAR, Bahar, Rhido, dan Abu dari MPA Mahadharma Nusantara menjejakkan kaki untuk kali pertama di Puncak kemuliaan Mulut Dewa (puncak Gunung Bawakaraeng 2750 Mdpl/dulu 2830 Mdpl).

  • Tanggal 12 Oktober  (ya My Love birthday)hahahahahahaha ..


November 


  • Tanggal 7 Nopember saya bersama Amri dari Odong-Odong Traveler Jakarta  mengapai Puncak Rantemario Latimojong 3478 Mdpl. Amri untuk yang pertama dan saya sebagai pemandunya.



Puncak Nenemori 3397 Mdpl
  • Sehari kemudian pada tanggal 8 saya kembali melakukan summit attack ke Puncak Rantemario dan lanjut seorang diri ke Puncak Nenemori Latimojong 3397 Mdpl. Setelah gagal pada pendakian sebelumnya (19-26 Juni 2011).


 
Peresmian OPAB JELATANG
  • Tanggal 11-11-11 kami bersama 4 orang teman {Ivan, Thian, Erra acim dan Anchi(saya sendiri)} mendirikan OPAB JELATANG NUSANTARA, organisasi ini berawal dari Ide saya, Ivan, dan Thian saat mendaki bersama di Rantemario Latimojong (19-23 Juli 2011).
  • Tanggal 20-11-2011 Saya, Ivan,Thian,Acim, Syahril, Fara, Utha,Erra dan Yuyu JELATANG. Meresmikan OPAB JELATANG di Lemba Ramma’, sebuah lembah yang sangat indah di kaki Gunung Bawakaraeng 2830 Mdpl.

December
Semoga dapat melewati bulan Desember dengan baik.Amin……….
Dan dapat melangkah ke tahun baru dengan selamat.
 

READ MORE.......

Perjalanan Kedua Ke Peg.Latimojong


Salam lestari……. Bagi para Sahabat Petualang…..!
Pada kesempatan kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman kami menggapai dua puncak tertinggi di Pulau Sulawesi…



Suatu sore di sebuah rumah berukuran sedang  dalam sebuah kamar kecil milikku, saya sedang sibuk mengutak-atik akun facebook milikku.

Walaupun hanya lewat handphone seluler kesayanganku…
mata saya tertuju pada sebuah pesan yang berasal dari seseorang yang tidak saya kenal sebelumnnya.
Lathiful Amri, itu lah nama akun yang sempat aku baca, “hai Gue amri dari Jakarta , pengen cari info tentang pendakian ke Rantemario “ kurang lebih begitulah bunyi pesannya pada saat itu.
Itulah awal perkenelan saya dengan Amri seorang teman dari Komunitas Odong-odong Traveler Jakarta, sampai akhirnya dia menyambangi Tanah Celebes pada tanggal 5 November 2011 kemarin, saya menjempunya di Bandara sabtu sore itu, dan malamnya kami langsung menuju ke Baraka, Kab.Enrekang. Kami menumpang pada mobil kijang yang digunakan sebagai angkutan menuju Baraka. Sebelumnya kami harus menunggu selama ± 2,5 jam di Terminal Regional Daya Makassar, sebelum meluncur menuju Baraka, sepanjang perjalanan kmi berbagi cerita tentang keadaan di Sulawesi dan segala macamnya.

Subuh 5/11/11, udara dingin pegunungan membangunkan aku dari lelap tidurku semalam, ternyata kami sudah memasuki wilayah Pegunungan kab.Enrekang. Setelah beberapa saat kami sampai di Baraka, jam di tangan saya kala itu menunjukkkan pukul  4.00 subuh, saya langsung menuju ke rumah Giast, seorang teman yang pernaah satu sekolah dengan saya di Makassar. Kami langsung disambut hangat dan kami akhirnya istirahat sejenak, maklum kami merasa lelah akibat semalaman naik mobil dari Makassar ke Baraka. Pagi harinya Amri bersama dengan Ghiast sekeluarga pergi untuk melaksanakan sholat IED. Sehabis Sholat Ied kami langsung sarapan dengan menu Dangke Bakar. Dangke adalah makanan berupa keju yang dibuat dari susu kerbau dengan cara tradisional. Sehabis Sarapan kami langsung  numpang ojek menuju Ke Karangan yang merupakan Kampung Terakhir di bawah kaki Peg.Latimojong. Sepanjang perjalanan kami berbagi cerita dengan tukang ojek yang begitu ramah, di Buntu Dea kami dihadang oleh hujan damn anehnya lagi tukang ojeknya agak takut bawa motor di penurunan, yach gentian dech..aku yang bawa motor diayang pikul carrier.hehehee…
Perjalanan Ke Dusun Karangan

Dusun Karuaja (saya dan kedua Tukang Ojek)

Jalur Menuju Dusun Rantelemo

Dangke Bakar di Baraka
 Setelah beberapa saat kami sampai di Dusun Karuaja, kami langsung melanjutkan berjalan kaki ke Dusun Karangan.

Kira-kira jam 12 siang itu kami sampai di Dusun Karangan, kami langsung menuju ke Rumah pak Dusun, karena pada hari itu bertepatan dengan Idul Adha jadi di rumah pak Dusun banyak Warga yang berkumpul (semacam silahturahmi). Asik…..kami disuguhi gulai kambing dan Nasu Cemba( masakan Khas Enrekang)…hahahaha.
Malam harinya kami menginap di rumah pak dusun…











































Rumah Pak Dusun Karangan

Amri dan Anak2 Karangan

































 Pagi buta yang dingin datang menyergap, saya langsung terkesiap dari tidur pulasku. Kami langsung sarapan, packing kemudian pamit ke pak Dusun.
Jam 7.30 pagi kami langsung memeulai pendakian menuju Rantemario.

Karangan-Pos  1
Menuju Pos 1

Kami kemudian memulai pendakian menujuju pos 1 yang diawali dengan melewati perkebunan kopi milik penduduk.  Jalur menuju pos 1 terdapat banyak pecabangan yang merupakan jalur pemburu dan penebang kayu. Mendekati pos 1 kami disambut oleh tanjakan terjal dengan kemiringan ± 80°.Namun hati ini mulai miriss melihat ulah penduduk yang membakar hutan dengan area semakin luas untuk berkebun kopi. Setelah berjalan ± 30 menit dari Karangan akhirnya kami sampai di pos 1 yangdikenal dengan nama Buntu Kaciling. Dari sini pemandangan sangat indah. Pos 1 ini sendiri berada pada ketinggian 1600 mdpl yang berupa areal terbuka berukuran 4 m2.




Pos 1-pos 2
Pos 2
Jalur menuju pos 2 kembali menanjak  kemudian akan menurun mendekati pos 2. Selang  kurang lebih satu jam kemudian, kami pun sampai di pos 2. Pos 2 ini juga dikenal dengan nama Goa Sarung Pak-pak yang berada pada ketinggian 1800 Mdpl, di sini terdapat sumber air  yang sangat jernih dan juga sangat dingin yang berasal dari sungai yang alirannya cukup besar. Disini juga terdapat sebuah batu besar yang menyerupai sebuah goa yang biasa digunakan pendaki untuk menginap. Setelah mengisi persediaan air kami langsung lanjut ke pos 3.



Pos 2- Pos 3
Menuju pos 3

Pos 3
Menuju pos 3 kami disambut dengan tanjakan terjal dengan kemiringan ± 70-80°. Jalur ini merupakan jalur terberat dari pendakian ke puncak Rantemario.Setelah beberapa saat kami pun sampai di pos 3 yang juga bernama Lantang Nase. Pos 3 ini sendiri berupa areal datar berukuran 5 m2 yang tidak memiliki sumber air dan berada pada ketinggian 1940 Mdpl.





Pos 3-Pos 4
Selepas pos 3  jalur masih menanjak dan melewati hutan yang cukup lembab. Kemiringan 50-60 derajat dan jalurlandaisesekali menghiasi posini. Kami berdua terus mendaki sambil sesekali bercanda. Amri bejalan di depan dan saya mengikuti dari belakang, tapi entah mengapa  pada saat menuju pos 4 ini saya merasa dro sekali dan seakan kaki malas untuk melangkah. Tapi Puji Tuhan dengan semangat membara , setelah beberapa saat kami pun sampai di pos 4 yang berupa areal teduh ditumbuhi pohon-pohon yang rimbun. Posini juga biasa disebut Buntu Lebu.

Pos 4-Pos 5

Menuju pos 5 kondisi jalur tidak banyak berubah, tanjakan dan tanjakan terjal masih mendominasi jalur ini. Perjalanan menuju pos 5 semakin menantang dengan jalur yang sedikit licin karena ditumbuhi lumut. Sambil sesekali memungut buah kalpataru yang berjatuhan di jalan kami terus melangkah. Namun sebelum pos 5 hujan mulai turun menghantam kami. Kami mempercepat langkah. Setelah beberapa saat akhirnya kami tiba di pos 5 yang ditandai dengan areal yang luas dan dikelilingi pohon-pohon dan berada pada ketinggian ± 2800 Mdpl. Pos 5 ini juga dikenal dengan nama Solo’ Tama dan berada di sisi sebuah punggungan. Disini kami makan siang menggunakan roti tawar yang dilapisi susu kream, karena kami sangat terburu- buru agar bias sampai dengan cepat di pos 7 (areal camp).

Pos 5-pos 6
Jalur menuju pos ini didomonasi oleh tanjakan dengan kemiringan antara 50-60 derajat. Sepanjang perjalanan menuj pos 6 hujan deras terus dating mengguyur kami namun kami harus tetap brjalan agar tidak drop. Sebelum sampai di pos 6 kami berteemu dengan 5 orang pendaki dari MAHADIPA Makassar.
Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bertanya keadaan di puncak dan pos 7.
Sesampai di pos 6, tanpa istirahat kami langsung lanjut ke pos 7. Karena hujan masih terus mengguyur.

Pos 6- pos 7
Pos 7
Kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos 7. Selepas pos 6  vegetasi tumbuhan mulai berubah. Pepohonan Sub Alpin yang kerdil mulai mendominasi jalur ini. Jalur menuju pos 7 berupa tanjakan melewati beberapa bukit kecil dengan sesekali jalur landai yang menghiasi rute ini. Mendekati pos 7 hujan mulai redah. Jam menunjukkan pukul 1.30 siang ketika kami sampai di pos 7, perjalanan kali ini terbilang cepat, mungkin karena kami diguyur hujan ya,,,,?jadi  kami terburu-buru.
Pos 7 yang juga dikenal dengan nama Kolong Buntu. Pos 7 ini berupa area tebuka yang berada pada ketinggian 3100 mdpl. Di pos ini terdapat sumber air dari aliran sebuah sungai kecil yang teletak 10 meter dari pos ini. Kami langsung mendirikan tenda kemudian pergi mengambil air lalu memasak.
Hari beranjak sore kami masih asik bersantai di tenda, memasak nasi smbil bercrita ditemani teh hangat . Suhu di pos 7 kala itu tidak terlalu dingin mungkin karena musim hujan.

Pos  7 – pos 8 (Puncak Rantemario 3478 Mdpl)
Amri

Sekitar jam 3 sore kami melihat bahwa cuaca di puncak cukup baik, kami langsung beranjak menuju puncak, Namun mendekati puncak kabut kembali turun diselingi gerimis. Hati ini terasa ragu untuk melangkah ke puncak karena saya berpikir kalau cuaca di puncak kurang baik maka kita turun saja dulu kemudian naik kembali esok pagi,  namun Amri terus berkata “positif Thinking bro, Pasti di puncak kita dapat cuaca bagus..!”
Di tengah gerimis yang sesekali tersapu cahaya mentari senja kami terus melangkah, sebelum puncak kami sesekali berfoto apalagi pada saat kami melihat pelangi sehabis hujan yang begitu indah, tanpa melewatkan momen itu kami berfose lagi.hehehe….
Beberapa saat kemudian kami akhirnya sampai ddi puncak, benar saja kata Amri cauca perlahan membaik dan gugusan kabut tebal perlahan namun pasti mulai terbuka. Tanpa melewatkan kesempatan ini Kami langsung berfoto-foto. Setelah berfoto-foto kami langsung turun ke pos  7. Sialnya mendekati pos 7, tepatnya di Lapangan/ perempatan hujan yang agak deras mengguyur kami, tak pelak lagi Jacket/ windbreaker saya sedikit basah waktu sampai di pos 7.

Matahari perlahan bergulir ke arah barat, di relung senja Peg. Latimojong hanya  suara gemercik dari aliran sungai yang terletak tak jauh dari camp terdengar berpadu dengan suara angin yang berhembus pelan dan sesekali dihiasi bunyi hewan-hewah penghuni sejati Latimojong. Hari pun beranjak gelap, setelah memasak kami berdua makan malam dilanjutkan dengan seduhan kopi jahe nikmat. Malam beranjak larut ketika kami mulai berbaring rebah di dalam gulungan sleeping bag masing-masing, setelah Amri menggosokkan Balsem di belakang saya kami berdua memutuskan untuk tidur. Tengah malam kami berdua terbagun dan menyeduh sebungkus mie instan untuk kami berdua dengan pertimbangan dapat menghangatkan badan kami yang terasa kurang enak, setelah makan mie kami mencoba tiduk kembali. Malam itu saya mutah-muntah, pasti karena masuk angin.
Untunglah setelah muntah saya bias tertidur pulas kembali.

8/11/2011
Dinginnya udara pagi disertai hembusan angin sejuk Latimojong membangunkan kami pagi itu, Puji Tuhan Pagi itu saya sudah merasa  sangat fit untuk summit attack ke Rantemario dan Nenemori.
 Setelah sarapan mie instan kami langsung bergegas untuk kembali menuju Puncak, Setelah 30 menit berjalan saya akhirnya sampai kembali  sampai di puncak Rantemario Latimojong 3478 Mdpl. Pagi itu Susana terasa beda menyambut saya, pemandangan dari puncak Rantemario sungguh menawan. Hal ini berbeda ketika saya menyambangi gunung ini Juli kemarin,karena pada saat itu puncak tertutup kabut sehingga kami tidak bias menyaksikan pemandangan yang seindah sekarang. Puji Tuhan, gumamku dalam hati menyaksikan betapa indah dan mempesona ciptaan-Nya tersebut. Dari sini saya dapat menyaksikan deretan puncak-puncak pegunungan Latimojong. Di sebelah Utara tampak dari kejauhan Wilayah Kab.Tana Toraja tempat kelahiran saya. Di sebelah timur juga tampak dari kejauhan Wilaya Luwu dan sekitarnya. Setelah beberapa saat Amri pun sampai juga, kami kemudian berfoto-foto lalu turun kembali.



Menuju Puncak Nenemori Latimojong 3397 Mdpl

Pos 6

Puncak Nenemori 3397 Mdpl
Karena pada pendakian kali ini saya juga menargetkan Puncak Nenemori maka sekembalinya dari puncak Rantemario saya kemudian menuju lapangan, di lapangan terdapat perempatan jalur. Seperti yang telah di instruksikan Bang Ayyung Garis sebelumnya dan juga berdasarkan berbagai literatur yang telah saya baca sebelumnya. Saya langsung menuju sebuah Tower Relay (pemancar) yang terletak ± 50 meter dari  arah lapangan. Karena pada saat itu cuaca lumayan cerah jadi jalur ke Nenemori yang berupa punggungan tampak cukup jelas.Dari Tower tersebut saya mulai mengecek jalur beserta stringline (intersection). Ke arah kanan terdapat jalur yang terus menurun kemudian melewati semak belukar, kondisi jalur menuju Nenemori memang agak kabur karena jarang dilalui oleh para pendaki. Jalur menuju puncak Nenemori ini kita harus melewati beberapa bukit dan lembah.Dengan rasa penasaran saya terus mengayunkan langkah kaki, sesekali saya berlari kecil ketika kondisi jalur sedikit bersih.
Setelah melewati kurang lebih 3 puncak bukit saya hamper tersesat karena kondisi jalur yang buram dan tidak Nampak stringline, namun tanpa rasa putus asa saya tetap mencari jalur sanpai saya menemukannya. Sialnya saya lupa mengisi botol air saya di Telaga tadi, seperti kita ketahui bahwa sepanjang jalur menuju Puncak Nenemori ini tidak terdapat sumber air. Dengan rasa haus yang semakin menyiksa saya terus melangkah. Hingga beberapa saat, setelah berjalan ± 1 jam dari lapangan (telaga) akhirnya tampak di depan mata saya tumpukan batu yang menandakan puncak Nenemori. Puji Tuhan yang sebesar-besarnya, akhirnya saya berhasil menginjakkan kaki di puncak tertinggi kedua di Tanah Celebes ini, walaupun hanya sendirian. Puncak Nenemori Latimojong ditandai dengan tumpukan batu yang dibuat para pendaki sebelumnya dan terdapat juga sebuah tower NRA berwarna orange yang dibuat oleh KPA GARIS PALOPO.Pemandangan dari puncak Nenemori tidak kalah eksotik dari puncak Rantemario. Di Sebelah utara tampak Puncak Rantemario, Rantekambola, Sinaji, Lapande Dan Sikolong, di sebelah timur tampak hamparan wilayah kabupaten Luwu, di sebelah Tenggara tampak Puncak Sejati Gunung Latimojong 3305 Mdpl, dan di sebelah selatan dan barat tampak sebagian wilayah Kab.Enrekang Dan Toraja. Tanpa buang-buang waktu saya langsung menagabadikan semua moment tersebut.
Setelah puas berfoto-foto saya langsung kembali ke pos 7 Rantemario. Total perjalanan pulang balik dari Lapangan – Puncak Nenemori adalah ± 2 jam (tergantung kecepatan).
Sesampai di pos 7 saya langsung sarapan dan packing kemudian Turun kembali ke Dusun Karangan. Dan saya dengan amri tiba kembali di Karangan pada pukul 16.00 sore itu. Kami langsung beres-beres dan berpamitan pada pak Dusun lalu kembali ke Baraka dengan menumpang ojek. Malamnya saya langsung kembali ke Makassar sementara Amri meneruskan perjalanan ke Toraja.
Itulah segumpal cerita perjalanan kami yang kedua kalinya ke Pegunungan Latimojong.

Teima kasih kepada:

  • Tuhan Yang Maha Kuasa.
  • Pak Dusun beserta Masyarakat Dusun Karangan
  • Ghiast sekeluarga
  • Pak Aris dan tukang ojek lainnya.
  • Amri OOT Jakarta
  • Bang Ayyung Garis atas infonya 
  • Pegunungan Latimojong atas segala keindahannya.
READ MORE.......

Minggu, 30 Oktober 2011

Gunung Bawakaraeng 2830 Mdpl (Meniti Puncak Kemuliaan Mulut Dewa)




Gunung Bawakaraeng  2830 Mdpl merupakan gunung yang berada dalam gugusan pegunungan Lompobattang.Nama Bawakaraengcsendiri berasal dari dua kata (bahasa Makassar) yaitu Bawa yang berarti mulut dan Karaeng yang berarti Dewa. Jadi Bawakaraeng berarti “Mulut Dewa”. 



Secara geografis Gunung Bawakaraeng terletak pada koordinat 119°56’37” BT dan 05°19’02” LS dan secara administratif terletak dalam wilayah Dusun Lembanna Desa Bulu’ Tana, Kec. Tinggi Moncong(Malino), Kab.Gowa.



Pada pendakian kali ini kami berjumlah 6 orang yaitu, Anchi JELATANG(Saya sendiri), Ivan JELATANG, One’ Sospear, Abu MDN, Rhido Mahadarma Nusantara, dan Bahar MDN. Kami berangkat dari Makassar selepas magrib pada hari Kamis 6 Oktober 2011 dengan 2 tim yang terpisah kami baru bertemu dengan Ivan dan One’ di Kota Malino. Sekitar jam 9 malam kami tiba di Kota Malino dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Dusun Lembanna yang kami tempuh kira-kira 30 menit. Setelah beberapa saat kai pun sampai di Dusun Lembanna kami langsung menuju ke rumah Tata Rasyid (Sang Juru Kunci Bawakaraeng), Dusun Lembanna sendiri terletak pada ketinggian ± 1500 Mdpl. Memang pada umumnya orang yang mau mendaki di Bawakaraeng melapor terlebih dahulu kepada Tata Rasyid. Rumah Tata Rasyid ini memeng sudah sejak lama dijadikan Basecamp bagi para pendaki. Di sini kami bertemu dengan lima orang anggota Mapala CAKRABUANA UMI yang baru saja melaksanakan lintas dari Gunung Lompobattang ke Bawakaraeng. Setelah memasak dan Makan malam kami berbagi cerita sejenak lalu hawa dingin Lembanna dan rasa capek karena perjalanan dari Makassar memaksa kami satu persatu untuk masuk ke dalam sleeping bag.hehehhehe
With Tata Rasyid
Subuh tanggal 7/10/2011 kala itu hawa dingin dan kokok ayam dari Rumah Warga disertai kumandang adzan Subuh dari mesjid di Lembanna membangunkan aku dari tidur pulasku.
pagi it saya yang bangun paling duluan di antara teman-teman. Tanpa membuang waktu saya langsung memasak untuk sarapan. Sehingga pada saat teman-teman terbangun kami tinggal membuat kopi hangat lalu sarapan. Setelah sarapan kami berpamitan kepada Tata dan istrinya serta teman-teman dari Cakrabuana lalu memulai pendakaian.


Lembanna-Pos 1

Awal pendakial menuju pos 1 dimulai dengan menyusuri jalan beraspal , melintasi kebun warga kemdian kami memasuki pintu rimba Bawakaraeng yang berupa batas antara kebun warga dengan hutan pinus. Jalur selanjutnya berupa jalan setapak yang sedikit basah diguyur hujan semalam, dalam perjalanan menuju pos 1 terdapat banyak parit kecil yang merupakan sumber irigasi untuk kebun Wargadi lembanana. Setelah berjalan sekitar 30 menit kami pun sampai di pos 1 yang berupa tanah datar dan ditandai dengan sebatang pohon yang lurus dan tidak terlalu besar.
Start Dari Lembanna  
Menuju Pos 1
Pos 1
















Pos 1-Pos 2

Setelah berfoto 2-3 kali jempretan kami langsung melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Jalur menuju pos 2 breupa trek datar yang sesekali diselingi tanjakan ringan. Sepanjang jalur ditumbuhi oleh tubuhan yang berupa tanaman perdu dan menghasilan buah sepeti tomat, tapi ukuran buahnya lebih kecil (sebesar kelereng). 
Buah Semacam Tomat


Sebelum sampai pos 2 kami sempat dipusingkan dengan salah satu percabangan yang mirip dengan pos 2. Karena memang di pos 2 terdapat percabangan yaitu belok kiri menuju puncak dan jalur kanan menuju Lembah Ramma. Akhirnya kami memutuskan untuk belok kanan lalu sebagian dari kami berjalan lebih dahulu untuk mengecek jalur (intersection), setelah beberapa saat kami mendengar teriakan dari teman bahwa jalur kami sudah benar, ternyata pos 2 ada di depan. Setelah beberapa saat akhirnya kami sampai di pos 2. Wilayah pos 2 ditandai dengan batu besar dan di sini terdapat percabangan jalur, belok kanan menuju Ramma dan kiri jalur ke puncak.
Pos 2



Pos 2- Pos 3

Setelah istirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan ke pos 3. Jalur menuju pos 3 berupa trek landai yang ditumbuhi rerumputan dan semak yang rimbun sehingga sedikit mengganggu pergerakan.Setelah berjalan ± 45 menit kami akhirnya sampai di pos 3. Pos 3 berupa pohon besar yang terdapat di dekatnya terdapat sungai kecil yang kering. Di musim hujan sungai di kecil ini terdapat air.
pos 3


Pos 3- Pos 4 dan 5

Pos 5

Dari pos 3 jalur mulai sedikit menanjak dengan kemiringan 45°-60°. Dalam perjalanan kami bertemu dengan warga yang baru saja turun dari puncak.
Memang di gunung Bawakaraeng sering dijadikan tempat ritual dari Masyarakat Gowa tertentu serta masyarakat dari daerah lain (bahkan ada yang dari luar Sulsel) terutam di Bulan Haji. Mereka mempercayai bahwa naik Haji di Bawakaraeng sama halnya dengan Berhaji di Mekkah.
Dan setelah berjalan ± 2 jam kami akhirnya sampai di pos 5. Pos 5 berupa areal datar yang biasa digunakan para pendaki untuk bermalam. Di sini terdapat sumber air berupa sungai kecil di sebelah kiri menurun yang berjarak sekitar 200 m dari pos 5.Kedatangan kami disambut dengan gerimis jam kala itu menunjukkan pukul 12.00. Di pos 5 kami memasak dan makan siang. Di sini kami tidak langgsung lanjut karena kami menunggu sampai waktu sholat Jumat selesai.

Pos 5- Pos 6

Jalur ke pos 6

Jalur menuju pos 6

pos 6


Saat jam menunjukkan pukul 13.30 yang menurut perkiraan kami bahwa waktu sholat telah selesai kami mulai packing lalu melanjutkan perjalanan ke pos 6. Jalur menuju pos 6 semakin menanjak dan terdapat banyak pohon tumbang sehinnga sesekali kami harus merayap di bawah pohon-pohon tumbang atau melompat melangkahi pohon-pohon tumbang tersebut. Pohon-pohon tumbang ini merupakan bekas kebakaran hutan yang terjadi beberapa tahun silam.
Setelah berjalan ± 1 jam kami akhirnya sampai di pos 6. Di pos 6 ini perubahan vegetasi mulai terlihat. Vegetasi di po 6 berupa hutan lebat.

Pos 6 – Pos 7

Pos 7

Selepas pos 6 jalur didominasi tanjakan terjal dengan kemiringan hingga 80°. Mendekati pos 7 pada ketingian 2710 jenis vegetasinya mulai berubah. Setelah berjalan sekitar 2 jam akhirnya kami sampai di pos 7  yang dikenal juga sebagai puncak bayangan. Jika tidak berkabut pemandangan di sini sangat indah. Setelah beristirahat sejenak sambil berfoto-foto kami langsung melanjutkan perjalanan karena kami kuatir berlama-lam di pos 7. Soalnya kata mereka yang sering mendaki di sini serim terjadi badai disertai petir.



Pos 7- Pos 8
Jalur menuju pos 8

Pos 8


Selepas pos 7 jalur berupa turunan terjal menyambut kami. Menurut cerita, sebelum longsor tahun 2003 di antara pos 7 ke pos 8 ini terdapat savana yang luas, tapi sekarang kita tidak bisa mendapatkannya lagi karena sudah terbawa longsor. Sepanjang jalur terdapat banyak pohon tumbangyang agak menyulitkan karena kami harus merayap-rayap di antara pohon tumbang ini. Di antara jalur ini juga terdapat in memoriam dari pendaki yang meninggal dalam perjalanan. Selepas turunan terjal kami mendapati sebuah sungai kecil yang kering. Jalur kemudian menanjak terjal, di sini stamina kami mulai drop sehingga kami berjalan sangat lambat. Setelah berjalan sekitar 1,5 jam akhirnya kami sampai di pos 8 yang juga dikenal dengan nama Telaga Bidadari. Sebenarnya yang ada di sini bukan telaga tetapi sungai kecil yang terdapat banyak cekungan yang menampung genangan-genangan air. Pos ini juga sering dijadikan tempat camp bagi pendaki sebelum summit attack.

Pos 8 – Camp Bawakaraeng
Sebelum pos 9

Mengintip di padang Edelweis

Selepas pos 8 jalur terus menanjak tanpa ada turunan lagi, kemiringan jalur mencapai 80°.
Setelah melewati padang edelweis kami akhirnya tiba di pos 9, tapi kami terus berjalan karena dari pos 9 ini puncak masih jauh. Sialnya di pos 9 kami lupa mengisi botol-botol kami, padahal di sinilah sumber air terakhir sebelum puncak.Dari pos 9 kami kembali melewati hamparan edelweis yang memanjakan mata. Sepanjang perjalanan pemandangan indah terhampar. Hati ini mengguman “sungguh agung karya Sang Pencipta” Sekitar pukul 18.00 kami tiba di camp terakhir dan tanpa membuang waktu kami langsung mencari tempat yang ideal untuk mendirikan tenda dan langsung membangun tenda.

Menikmati malam Tanpa Kopi

Setelah tenda berdiri kami langsung memasak dengan menghemat air, mengingat persediaan air kami kira –kira tinggal 2,5 liter.Karena kami lupa mengisi botol kami di pos 9 tadi.Sementara kami memasak, Bahar, One dan Abu pergi ke telaga(sebuah lubang yang sebenarnya lebh mirip sungai dan terletak 30 meter di bawah puncak) untuk mengecek keberadaan air. Mereka kembali dengan tangan hampa karena yang ada di telaga saat itu tinggal air keruh yang jumlahnya tidak sampai 0,5 liter. Akhirnya malam itu kami hanya memasak ikan kaleng sebagai lauk(tanpa air) dan air yang tinggal sedikit kami gunakan untuk masak. Untuk tambahan mengganjal perut kami makan makanan ringan yang kami bawa.
Malam ini kami lalaui dengan sangat janggal karena kami tidak bisa membuat kopi maupun susu berhubung air kami sudah habis.
Sebelum tidur saya dan Bahar kembali naik ke sumur dan menyaring air keruh tadi dan kami mendapatkan kira-kira 0,5 liter saja. Kami pun mulai menerapakan berbderapa teknik survival di antaranya dengan memanfaatkan kain yang dibasahi oleh embun kala itu. Dan juga teknik pemanfaatan proses pengaupan daun di malam hari. Kami berharap bisa mendapatkan sedikit air di pagi hari.
Coba Survival

Malampun semakin jauh melarut hingga akhirnya rasa kantuk dan capek menuntuk kami satu persatu ke dalam balutan sleeping bag di tengah dinginnya hawa Bawakaraeng.

Summit Attack

Sunrise in Bawakaraeng

At Summit

we Are

sunrise in Summit


Teriakan One yang terdengar dari luar tenda menghentak aku untuk langsung terbangun dari tidur ku. Saya, One dan Ivan langsung berlari menuju puncak yang hanya berjarak kira-kira 70 m dari tempat camp. Bahar dan Rhido menyusul kami beberapa saat kemudian, sementara Abu tinggal di Tenda karena kakinya sakit dan susah digerakkan.
Setelah tiba di puncak tak lupa kami berdoa terlebih dahulu, mengucap syukur karena telah mencapai puncak dengan selamat. Tanpa melewatkan momen sunrise yang indah kami langsung berfoto-foto dan mengibarkan bendera. Pemandangan dari puncak kala itu sangat eksotis. Di sebelah utara terhampar dataran tinggi Sulawesi Selatan, di sebelah Barat Tampak pemandangan Kota Makassar dari kejauhan, di sebelah timur berupa pemandangan laut dan di sebelah selatan tampak jejeran pegunungan Lompobattang. Tidak salah jika puncak Bawakaraeng dikategorikan sebagai salah satu puncak terindah di Sulawesi.
Setelah puas berfoto-foto kami kembali ke camp dan sarapan dengan biskuit dan sedikit susu kental. Kami langsung packing untuk persiapan turun tak lupa kami membersihkan sampah-sampah yang berserakan di sekitar camp.
Salah satu kejanggalan yang ada yakni banyaknya samph yang berserakan, hati ini sangat miris memandangi ulah-ulah orang yang tidak bertanggung jawab tersebut. Tapi apa daya, mungkin butuh waktu berhari-hari plus tenaga lebih untuk membersihkan sampah-sampah tersebut. 
Pencinta alam sejati (pungut Sampah )

Terpaksa kami hanya membereskan sebisa yang kami mampu. Sebelum turun kami kembali naik ke puncak dan kali ini Abu sudah merasa lebih baik sehingga ia ikut naik juga.










Perjalanan Pulang
Siap Turun

Sekitar pukul 9 lewat kami meninggalkan tempat camp dan turun kembali. Sesampai di pos 9 kami memasak dan makan besar-besaran di sini untuk mengurangi ransum yang kami bawa agar kami tidak terlalu terbebani. Karena kami beristirahat cukup lama di pos 9, sehingga kami meninggalkan pos ini saat jam telah menunjukkan pukul 12.30. Sepanjang perjalanan kami lalui dengan semangat untuk segera sampai di Lembanna. Di pos 7 kami kembali berpapasan dengan beberapa pendaki yang juga berasal dai Makassar.
Menjelang magrib kami tiba kembali di Lembanna. Puji Syukur kembali saya gumamkan dalam hati. Kami langsung menuju rumah Tata Rasyid. Setelah mandi kami berpamitan kepada Tata lalu pulang kembali ke Makassar. Kami meninggalkan Lembanna saat pada jam 7 malam itu, tak lupa kami singgah di Malino untuk makan coto..
Jam 11 malam kami akhirnya sampai dengan selamat di Makassar.

Itulah segumpal cerita perjalanan kami saat meniti Puncak Mulut Dewa, Gunung Bawakaraeng.

Thanks to:

  •  Tuhan Maha Esa
  •  Tata Rasyid sekeluarga
  • Warga Desa Lembanna.
  • Teman-teman atas Segala Doa dan dukungannya.
  • Gunung Bawakaraeng atas segala keindahannya.... 
  • Teman-Teman CAKRABUANA


READ MORE.......